Sabtu, 25 Februari 2023

Kewajiban Seorang Guru Kepada Muridnya

Hendaknya seorang guru menyayangi muridnya dan memeperlakukan mereka seperti anak sendiri. Tidak mencari upah dalam mengajarkan ilmunya kepada mereka. Tidak mengharap pujian dari manusia, namun mengharap wajah Allah saat mengajarkan ilmunya. Tidak memandang dirinya berjasa kepada muridnya. Memandang muridnya sebagai orang yang mempunyai keutamaan karena telah menyiapkan hati mereka untuk ditanami ilmu.

 

Hendaknya seorang guru tidak pelit dalam menasehati muridnya. Memperingatkan muridnya dari akhlak buruk dengan bahasa yang halus sebisa mungkin, bukan dengan menjelek-jelekannya atau menasehatinya dengan bahasa yang kasar, karena hal itu bisa merusak kewibawaan seorang guru.

 

Hendaknya seorang guru memperhatikan kemampuan pemahaman dan kadar kecerdasan muridnya. Tidak menyampaikan kepada muridnya apa yang belum dia pahami dan belum dia kuasai oleh akalnya.

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, ‘’Aku diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka.’’ (HR. Ad Dailami, dengan sanad sangat dhaif)

 

Al Bukhari meriwayatkan bahwasannya Ali bin Abi Thalib berkata, ‘’Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui, apakah kalian mau apabila Allah dan RasulNya didustakan?’’

 

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwasannya beliau berkata, ‘’Kamu tidaklah menyampaikan sesuatu kepada sebuah kaum yang belum terjangkau oleh akal mereka, kecuali pembicaraan tersebut akan menjadi fitnah bagi Sebagian dari mereka.’’

 

Hendaknya seorang guru mengamalkan ilmunya. Perkataannya tidak mendustakan perbuatannya. Mengajarkan kepada muridnya dengan perbuatannya yang baik. Berusaha menjadikan dirinya suritauladan untuk muridnya. Merasa takut dengan keburukan akan menimpanya karena tidak mengamalkan ilmunya.

 

Allah subhanahu wataala berfirman, ‘Mengapa kalian menganjurkan orang lain untuk berbuat baik, sedangkan kalian melupakan diri sendiri, padahal kalian membaca kitab suci? Tidakkah kalian berpikir?” (QS. Al-Baqarah : 44)

 

Ali bin Abi Thalib berkata, ‘’Keburukan dan malapetaka menimpaku karena dua orang: orang berilmu yang melanggar dan orang bodoh yang rajin beribadah.’’

 

Allahu A’lam

 



Tidak ada komentar:
Write komentar