Kamis, 23 Februari 2023

Adab Diawal Mencari Ilmu

Seorang penuntut ilmu hendaknya meluruskan niat, menjauhi akhlak tercela dan cinta dunia. Dia harus menghilangkan semua yang dapat menyibukkannya dari ilmu, karena jika pikiran bercabang maka tidak akan bisa mengetahui hakikat ilmu.

 

Diriwayatkan dari imam ahmad bahwa beliau baru menikah diatas umur 40 tahun, hal ini dikarenakan beliau fokus dalam mencari ilmu.

 

Seorang budak wanita dihadiahkan kepada Abu Bakar Al Anbari. Ketika budak wanita ini mulai tinggal serumah dengannya, lalu Abu Bakar Al Anbari membahas sebuah permasalahan ilmu namun ia gagal menemukan jawaban dari masalah tersebut, maka ia berkata, ‘’Bawalah budak wanita ini kepada penjual budak.’’ Budak wanita tersebut bertanya, ‘’Dosa apa yang telah aku lakukan?’’ Abu Bakar Al Anbari menjawab, ‘’Tidak ada, hanya saja hatiku sibuk denganmu, orang sepertimu seharusnya tidak menghalangiku dari ilmu.’’

 

Seorang penuntut ilmu juga harus patuh kepada gurunya, bertawadhu dan berusaha berkhidmat semaksimal mungkin kepadanya. Seperti orang sakit yang patuh kepada dokter ketika diobati penyakitnya. 

 

Suatu ketika Ibnu Abbas pernah memegang pijakan pelana tunggangan Zaid bin Tsabit sambil berkata, ‘’Seperti inilah kita diperintahkan memperlakukan ulama kita.’’

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘’Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi orang yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak-haknya para ulama.” (HR Al-Hakim)

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘’Keberkahan itu ada bersama para ulama.” (HR Ath-Thabrani)

 

Seorang penuntut ilmu diawal langkahnya dalam mencari ilmu harus menjauhi mendengar perbedaan pendapat orang-orang, karena hal itu dapat membingungkan akalnya dan menumpulkan pikirannya. Dia harus memilih mempelajari ilmu yang terbaik bagi dirinya, karena umurnya tidak cukup panjang untuk menguasai semua bidang ilmu. Tidak boleh terpancing oleh perdebatan-perdebatan diantara penuntut ilmu atau dengan orang bodoh.

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” (Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138)

 

Allahu A’lam




Tidak ada komentar:
Write komentar